badminton


SINGAPURA – Ganda campuran Indonesia Nova Widianto/Liliyana Natsir akhirnya memastikan diri melaju ke babak semifinal Singapura Open Super Series 2008.

Bermain di stadion indoor Singapura, Jumat (13/6/2008), ganda unggulan pertama itu berhasil mengalahkan ganda campuran Korea Kwon Yi-goo/Ha Jung-eun dua set langsung, 21-12 21-15.

Di set pertama, meski sempat tertinggal 6-4, Nova/Liliyana mampu membalikkan keadaan dan terus memimpin hingga set pertama berakhir. Nova/Liliyana memang terlihat lebih unggul dalam smes dan reli-reli panjang atas ganda Thailand tersebut dan menutup set pertama 21-14.

Permainan di set kedua jugat tidak mengalami perubahan. Dari 33 permaianan reli, Nova/Liliyana yang menjadi unggulan pertama di turnamen itu, berhasil memenangkan 21 reli diantaranya.

Di babak semifinal, ganda campuran terbaik itu akan kembali bertemu ganda campuran Thailand lainnya, Anugritayawon Songphon/Voravichitchaikul Kunchala.

MBI gaungkan Thomas & Uber Cup
Masyarakat Bulutangkis Indodnesia (MBI)Masyarakat Bulutangkis Indodnesia (MBI) pada hari Minggu, 13 April 2008 mulai mengkampanyekan Kejuaraan Bulutangkis Thomas & Uber Cup yang akan di gelar di Jakarta pada tanggal 07 s/d 11 Mei 2008.

Dalam upaya mengenang 50 tahun Indonesia pertama kali merebut Thomas Cup, MBI mengajak masyarakat Indonesia khususnya warga Jakarta untuk memberikan dukungan bagi Tim Indonesia.

Jika ada yang menonton final siaran langsung All England 2008 di Global TV atau Indovision minggu lalu, 9 Maret, tentunya melihat aksi tunggal putra nomor satu dunia, Lin Dan.

Saya tidak ingin mengomentari prestasinya; orang sudah tutup mata dengan konsistensinya dan keuletannya. Yang saya ingin komentari adalah semangat juangnya yang sangat luar biasa.

Saat itu dia bertanding melawan juniornya, Chen Jin. Di awal pertandingan kita belum melihat tanda-tanda “keanehan” pada kaki kiri Lin Dan. Hanya sesekali dia menendang-nendang keluar kakinya itu, seakan sedang berusaha meluruskannya.

Di tengah-tengah set pertama mulai terlihat, Lin Dan bergerak tidak seperti biasanya. Biasanya dia brgerak gesit menyambut bola. Sekarang responnya seakan lebih lambat dan badannya terasa berat. Beberapa kali aksi “terjun bebasnya” tidak “sebebas” biasanya; terlihat Lin Dan berusaha melindungi lutut kakinya lewat menahan badannya dengan tangan. Mulai terlihat pula smesnya yang tidak prima dan kakinya yang mulai diseret.

Chen Jin yang melihat gelagat tersebut langsung bertindak. Dia banyak menyerang sisi kiri Lin Dan dimana Lin Dan tidak bisa banyak bergerak. Bola pun diarahkan ke kiri dan ke kanan, depan dan belakang.

Disinilah terlihat mental juara Lin Dan.

Walaupun dalam keadaan “hopeless” seperti itu, tidak terlihat ekspresi Lin Dan yang putus asa. Yang terlihat hanyalah ekspresi menahan sakit dan kesal terhadap badannya yang tidak bisa bergerak seperti biasa. Toh, Lin Dan tetap menjabani segala macam pukulan Chen Jin. Saya yang waktu itu menonton jadi ikut meringis dan ingin menangis karena saya yakin pasti sakitnya bukan main dan kesalnya juga bukan main (saya juga punya masalah di lutut).

Hasilnya? Chen Jin tetap menang dua set langsung, tapi dengan susah payah, 24-22, 25-23.

Luar biasa. Benar-benar mental seorang juara. Dia tetap memberikan penampilan terbaiknya walaupun pada kondisi terburuknya. Dia tidak hilang semangat atau patah arang.

Saya rasa saat ini atlit bulutangkis dari Indonesia maupun negara lain belum ada yang memiliki mental seperti Lin Dan. Mental luar biasa yang patut diacungi jempol dan dijadikan pedoman pebulutangkis muda.

Tiga wakil Indonesia yang masuk final turnamen bulutangkis Jepang terbuka, Minggu (16/9) gagal meraih gelar juara. Taufik Hidayat, Nova Widhianto/Lilyana Natsir serta Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto dikalahkan lawan-lawan mereka di final.

Taufik Hidayat harus menyerah dalam pertandingan tiga game dari pemain nomor satu Malaysia Lee Chong Wei 20-22, 21-19, 19-21 yang berlangsung selama 65 menit.

Di nomor ganda campuran, pasangan juara dunia Nova Widiyanto/Lilyana Natsir gagal membendung langkah unggulan teratas asal China Zheng Bo/Gao Ling dan harus menyerah dalam pertandingan dua game 19-21, 14-21 dalam waktu 41 menit.

Peluang terakhir, yaitu dari ganda putra pun harus lepas dari genggaman setelah pasangan Pelatnas Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto Chandra gagal memetik kemenangan pada final pertama mereka musim ini.

Pasangan Indonesia yang melaju ke semifinal Cina Master itu harus menyerah dari mantan senior mereka di Pelatnas yaitu Chandra Wijaya/Tony Gunawan dalam pertandingan dua game langsung 18-21, 17-21 dalam waktu 29 menit.

Hasil Lengkap:
(4) Lee Chong Wei (Malaysia) vs Taufik Hidayat (Indonesia), 22-20, 19-21, 21-19;
Tine Rasmussen (Denmark) vs (2) Xie Xingfang (Cina), 21-15, 21-17;
(4) Candra Wijaya/Tony Gunawan (Indonesia) vs Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto Chandra (Indonesia), 21-18, 21-17;
(3) Yang Wei/Zhang Jiewen (Cina) vs (5) Zhao Tingting/Yu Yang (Cina), 21-17, 21-5;
(1) Zheng Bo/Gao Ling (Cina) vs (2) Nova Widianto/Lilyana Natsir (Indonesia), 21-19, 21-14.

HSBC kicked off their four-day badminton tournament with as many as 200 shuttlers from various organisations taking part at the PGGMB Building yesterday.

The meet was held in conjunction with the bank’s 60th anniversary celebrations. The Deputy Chief Executive Officer of HSBC, Rosdi Amin, officially welcomed the participants yesterday.

One of the tournament’s organisers, Rena Lee, said: ”I was impressed by the response and willingness of all the teams to participate in this tournament. It is a great opportunity for badminton enthusiasts of all levels to meet and play competitively.”

”Apart from our 60th anniversary celebrations, the committee’s reasons for organising the tournament were to foster closer relationships and promote a healthy lifestyle among HSBC and friends from other sectors,” she added.

Kejuaraan Asia di Johor Bahru, Malaysia, 15-20 April, punya arti penting buat pebulutangkis Indonesia. Hasil yang dicapai bakal menentukan strategi di Piala Thomas-Uber dan tiket ke Olimpiade.

PBSI mendaftarkan hampir seluruh pemain terbaik yang ada di pelatnas Cipayung. Hanya ganda nomor satu dunia, Markis Kido/Hendra Setiawan, yang absen. Pertimbangannya, Kido baru kembali berlatih setelah cuti karena sang ayah meninggal dua pekan lalu.

Sorotan publik bakal mengarah pada pasangan Candra Wijaya/Nova Widianto. Pasangan senior ini sedang dicoba untuk alternatif ganda ketiga Piala Thomas. ”Anggap saja kami ini pasangan alternatif. Tak ada target. Kami hanya perlu penyesuaian dalam suasana pertandingan,” ucap Candra.

Terakhir kali mereka berpasangan dalam ajang resmi terjadi empat tahun silam di ajang PON. Ketika itu Candra/Nova mewakili DKI Jakarta.

Meski baru, pasangan ini bisa jadi mencuri perhatian lawan. Maklum, calon lawan di Piala Thomas nanti sebagian besar akan turun di Kejuaraan Asia.

”Indonesia pintar mengubah komposisi ganda. Candra adalah pemain bagus, dipasangkan dengan siapa pun bisa menjadi kombinasi yang berbahaya,” kata Yap Kim Hock, pelatih kepala Malaysia, pada The Star.