Adanya pe-er baru bisa diliat dari perubahan slogan buat gelaran kompetisi IBL mulai musim tahun ini. Slogannya kali ini adalah Basket Hidup Saya. Slogan yang rada ambisius karena menganggap basket udah sangat diterima di Indonesia.
Mungkin kalo melihat gelaran kompetisi IBL selama ini, anggapan kayak tadi wajar bakal muncul. Atmsofir yang ada pada setiap pertandingan lumayan seru. Mulai dari aktivitas yang di luar lapangan, maupun di dalam lapangan.
Di luar lapangan, gelaran biasanya di-set seperti sebuah pesta besar yang meriah. Di sekeliling stadion tempat pertandingan basket digelar, bisa ditemui booth-booth yang berhubungan sama IBL serta olahraga basket itu sendiri. Pokoknya nuansa kompetisi yang paten bisa terasa di sini.
Begitu masuk ke dalam lapangan, keseruan makin bertambah. Yang paling jelas adalah selalu ramainya jumlah penonton yang memadati stadion. Ditambah pula dengan perlengkapan atribut layaknya fans fanatik yang mendukung jagoannya. Lantas begitu pertandingan dimulai, sorakan penonton jadi bagian yang menambah seru suasana.
Pertandingan antara klub-klub IBL jelas bisa dibilang bagian paling seru dari gelaran ini. Pemain-pemainnya rata-rata memperagakan teknik bermain basket serta skill individu yang sangat baik. Malah lebih maju dari beberapa tahun silam. Nggak heran kalo dari sini muncul anggapan basket Indonesia nggak bisa dipandang enteng lagi.
Tapi itu semua cuma sebatas saat setiap pertandingan digelar aja. Begitu pestanya udah kelar, situasi jadi biasa-biasa aja lagi. Buktinya jarang sekali ada obrolan-obrolan seru yang muncul berkaitan dengan IBL apalagi perbasketan Indonesia. Artinya belum terjadi ikatan emosional antara basket dengan publiknya.
Jadi bisa dibilang ikatan emosional inilah yang sekarang pengen dikejar oleh kompetisi IBL. Setelah 5 tahun berhasil membuktikan basket emang bisa survive, sekarang tinggal membentuk fanatismenya aja.
Yang jelas fanatisme nggak bisa terbentuk dalam waktu singkat. Makanya bisa jadi slogan Basket Hidup Saya adalah bagian dari program jangka panjang juga, yang awalannya ada di tahun ini. Sedangkan cara yang dipakai buat membangun fanatisme ada pada setiap musim gelaran.
Contohnya kayak gelaran musim ini. Buat yang udah sempet nonton pertandingan IBL musim ini, mungkin melihat perubahan yang terjadi. Sadar nggak kalo nama-nama klub yang bertanding sekarang udah disertai nama kota pula?
Kalo melihat dari perubahan ini, adanya penambahan nama kota di setiap nama klub mungkin ditujukan untuk membangkitkan ikatan emosional tadi. Imej klub akan naik, setidaknya di publik kota yang diwakilinya. Lantas ujungnya soal fanatisme akan bangkit secara perlahan-lahan.
Cara seperti ini yang udah kelihatan sukses di dunia persepakbolaan Indonesia. Sejak lama klub-klub yang bertanding di Liga Indonesia udah menyandang nama kota juga. Ternyata hasilnya saat ini fanatisme terhadap klub di masing-masing kota udah terbentuk secara luar biasa. Terbukti di setiap pertandingannya pasti ada fans fanatik yang berasal dari kota asal klub.
So, jelas kalo mulai musim gelaran tahun ini, setiap klub yang berlaga di IBL bakal lebih digenjot lagi pamornya. Diawali dari pamor di masing-masing kota yang diwakili, sesuai dengan yang dibawa oleh nama klub.
”Di tahun ke-6 kehadiran IBL, kami tak hanya sekedar memfasilitasi aspirasi dan kecintaan terhadap olahraga ini. Lebih dari itu kami hendak mengeksplorasi basket sebagai bagian dari gaya hidup,” papar salah satu petinggi di jajaran pengurus IBL.
Well, setidaknya kita emang pengen ngelihat dunia olahraga di Indonesia jadi bergairah lagi. Setelah selama ini cuma sepakbola yang jadi perhatian besar, nggak ada salahnya kalo basket juga mendapat porsi yang sama.