basket ball


Foto: David Stern / AP

LOS ANGELES – Kasus suap wasit NBA kembali merebak. Namun pimpinan Asosiasi Bolabasket Amerika (NBA) David Stern, menjamin tidak ada lagi pengadil NBA yang terlibat kasus manipulasi pertandingan.

Stern memberikan jaminan tersebut kepada media, bertepatan dengan laga final keempat NBA antara Los Angeles Lakers dan Boston Celtics, Jumat (13/6/2008).

Stern terpaksa memberikan penegasan kepada media, karena kasus suap wasit kembali mencuat belakangan ini. Kasus ini berpotensi meningkatkan keresahan, apalagi NBA kini sudah berada pada tahap final.

Selain oknum wasit Tim Donaghy yang telah dibui terkait kasus manipulasi pertandingan, ternyata masih ada beberapa pengadil lain yang diduga menerima pesanan hasil pertandingan. Yang disorot, adalah para pengadil pertandingan keenam final Wilayah Barat NBA tahun 2002 antara Houston Rockets kontra Dallas Mavericks.

Saat itu banyak sekali keputusan wasit yang terlalu memihak kepada salah satu tim peserta. Stern mengakui keputusan wasit pada laga itu sangat buruk, namun keputusan pengadil menurutnya tetap jujur dan legal.

“Pernyataan tanpa bukti, sama sekali salah. Itu tidak benar,” kata Stern, membantah tuduhan miring yang diarahkan pada para pengadil lapangannya.

“Satu-satunya orang yang ditahan karena bersalah adalah Donaghy,” tegas Stern seperti dikutip Associated Press.

Foto: AP

BOSTON – Tuan rumah Boston Celtics amankan laga final NBA ke-2. Berlaga di TD Banknorth Boston, Senin (9/6/2008), Paul Pierce dkk membukukan kemenangan atas� Los Angeles Lakers 108-102.

Bermain di hadapan pendukungnya sendiri, Celtics tampil luar biasa. Meski sempat bermain gugup di kuarter pertama, Celtics akhirnya bangkit memimpin di dua kuarter berikutnya melalui permainan cemerlang Pierce.

Berkat Pierce, Celtics mampu balik menyusul hingga anak-anak Boston menang jauh 83-61 di akhir kuarter ketiga. Pierce yang masih didera cedera lutut, tampil beringas dengan mengumpulkan angka tertinggi bagi Celtics dengan 28 poin, 4 rebounds dan 8 assists.

Lakers yang dikomandoi MVP Kobe Bryant berupaya mengejar ketinggalan di 12 menit terakhir pertandingan. Mengandalkan tembakan tiga angka Bryant dan pemain pengganti Sasha Vujacic, Lakers sedikit demi sedikit bisa mengikis selisih angka.

Para pendukung Boston sempat dipaksa menahan nafas saat Pierce dua kali kehilangan bola saat pertandingan tersisa 1 menit. Oleh Bryant dan Vladimir Radmanovic, kekhilafan Pierce dimanfaatkan dengan baik untuk membawa Lakers mengejar defisit ketinggalan menjadi 102-106.

Tapi perjuangan Lakers terkunci di angka 102. Celtics yang berupaya mengamankan kemenangan, langsung memainkan strategi bertahan total dengan mengontrol tempo permainan hingga buzzer akhir berbunyi.

Dengan kemenangan ini, maka Celtics memimpin seri final NBA atas Lakers dengan keunggulan 2-0 dari the best of seven series. Pertandingan berikutnya akan dipindahkan ke Staples Center Los Angeles pada hari Rabu (11/6/2008) WIB.

“Saya rasa kami agak ceroboh dalam mempertahankan keunggulan. Kami tidak mempertahankan permainan agresif dengan membiarkan mereka ambil alih menekan. Kami harus mengambil hikmah dari kuarter keempat ini, dengan mencoba bermain hingga akhir tanpa perlu khawatir dengan skor di papan,” ujar Pierce usai pertandingan.

Foto: Kobe Bryant/AP

LOS ANGELES - Los Angeles Lakers menang tipis 87-81 atas Boston Celtics di laga Final ke-3 NBA di Staples Center, Rabu (11/6/2008). Agregat dari the best of seven series berubah menjadi 1-2, masih untuk keunggulan Celtics.

Pertarungan sengit terjadi antara dua shooting guard, Kobe Bryant dari Lakers dan Ray Allen mewakili Celtics. Keduanya tampil menjadi pencetak angka terbanyak pada pertandingan ini.

Kobe menjadi pemain terbaik dengan menyumbangkan angka terbanyak bagi Lakers. Total, Kobe mencatat 36 angka 7 rebounds dan 1 assists. Sementara dari kubu Celtics, Allen menyusul perolehan poin Kobe dengan 25 poin 5 rebounds dan 2 assists.

Kemenangan Lakers merupakan hasil kerja keras Lakers yang tidak ingin tenggelam dalam kesedihan, pasca dua kekalahan dari Celtics. Kontribusi yang diberikan para pemain Lakers berujung pada kemenangan penting di laga ke-3.

“Kami hanya ingin bermain. Saya rasa rekan setim tidak ada yang putus asa,” ujar Kobe mengomentari determinasi Lakers untuk memenangi pertandingan atas Celtics, Rabu (11/6/2008).

Celtics sebenarnya memiliki peluang besar mencuri satu kemenangan di Los Angeles, ketika Ray Allen dkk unggul jauh di akhir kuarter ketiga. Tapi, di sisa enam menit pertandingan, pertahanan Celtics mulai goyah hingga Lakers bisa ganti memimpin perolehan angka melalui Bryant dan Sasha Vujacic.

Laga final NBA ke-4 akan digelar Jumat (13/11/2008) mendatang, masih di Staples Center Los Angeles. Kobe cs. harus memastikan satu kemenangan lagi di Los Angeles sebelum kembali berlaga di Boston. Bila tidak, peluang Lakers memenangi final dipastikan semakin berat karena Boston akan menjadi tuan rumah gim 5.

Foto: Paul Pierce / AP

LOS ANGELES – Sekira 19.000 pendukung fanatik Los Angeles Lakers di Staples Center Stadion terdiam. Lakers gagal memenangkan laga keempat final NBA usai dipecundangi Boston Celtics 97-91, Jumat (13/6/2008). Celtics untuk sementara memimpin 3-1.

Tanda-tanda kekalahan Lakers mulai terlihat menjelang kuarter ketiga berakhir. Tabungan angka yang dikumpulkan Kobe Bryant dkk sejak tancap gas di awal pertandingan, berhasil dipangkas anak-anak Celtics.

Setelah unggul 35-14 di kuarter pertama, sisi defense Lakers seakan terlena di sisa pertandingan. Celtics sedikit demi sedikit mengejar, hingga akhirnya Lakers gagal mempertahankan keunggulan dan cuma menyisakan kemenangan setengah bola di awal kuarter empat.

Bencana bagi Lakers akhirnya datang di 12 menit terakhir pertandingan. Sisi pertahanan yang selama ini menjadi titik lemah Lakers, berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Celtics.

Ketika pertandingan tinggal menyisakan 4 menit, Boston berbalik memimpin melalui tembakan Eddie House. Ray Allen lantas dua kali memperbesar keunggulan melalui tembakan tiga angka dan satu layup manis yang mengubah keunggulan Celtics menjadi 68-63. Sejak itu Lakers tidak mampu lagi mengejar ketinggalan dari Celtics.

Kemenangan Celtics menurut Paul Pierce adalah semangat pantang menyerah, meski tertinggal jauh di awal pertandingan. “Jangan lihat papan skor, kita harus terus berjuang,” demikian Paul Pierce memberikan rahasia kemenangannya.

PALEMBANG – Pertandingan penyisihan Final Four Kobatama 2007/08 di GOR Tenis, Palembang, Jumat (15/2) ini dipastikan akan berlangsung seru. Keempat tim peserta masih memiliki peluang sama besar untuk lolos ke grand. Namun peluang terbesar dimiliki juara bertahan Stadium Jakarta yang sudah memetik dua kemenangan. Dua kemenangan Stadium diperoleh dari Halim Kediri 71-50 dan PIMNAD 64-61.

PIMNAD yang kalah dari Stadium pada hari pertama, membuka peluang setelah membekap tuan rumah Muba Hangtuah 67-56, semalam. Jika pada hari ini PIMNAD mengalahkan Halim Kediri, maka mereka berhak lolos ke grand Final.

“Kami kecolongan di kuarter ketiga dan keempat. Apalagi setelah Heru Dwi Putra, Chandra Lesmana, dan Khalif Akbar foul out. Namun untunglah para pemain pengganti bisa mengambil peran di saat kritis,” ungkap Royhim Zulfan, asisten pelatih PIMNAD, usai pertandingan.

Meskipun kalah, Halim dan Muba masih memiliki peluang lolos. Muba Hangtuah akan lolos jika menang dengan setidaknya 7 angka atas Stadium. Sebab kemenangan atas Stadium akan membuat dilakukan penghitungan antara ketiga tim, dimana PIMNAD memiliki average terbaik sebab menang +9 atas Muba, dan kalah -3 dari Stadium (+6). Jika kalah kurang dari 7 angka, Stadium tetap lolos.

Jika Stadium menang atas Muba sedangkan PIMNAD kalah dari Halim, maka akan dilakukan penghitungan antara ketiga tim (PIMNAD, Muba, dan Halim). Jika itu terjadi, Muba Hangtuah akan lolos ke final menghadapi Stadium.

“Kita akan fight menghadapi Halim. Doakan kami bisa memetik kemenangan,” ungkap Lukman Hasibuan, pelatih PIMNAD. Hanya kemenangan yang bisa membawa PIMNAD lolos ke grand final. Kemenangan pula yang diincar Stadium dan Muba Hangtuah agar bisa melenggang ke grand final.

Nah, seru kan!

JAKARTA – Aspac Jakarta sukses menghempaskan musuh bebuyutan SM Britama pada pertandingan IBL 2008 seri pertama di Gedung Basket Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (19/1). Bertanding lebih lepas, Aspac memetik kemenangan 105-96. Namun pertandingan ini harus diselesaikan lewat dua kali perpanjangan waktu.

Aspac tampil lebih lepas di pertandingan ini. Kombinasi Mario Wuysang, Andhi Batan, Andrie Ekayana, M. Isman Thoyib ternyata cukup merepotkan SM yang memiliki 8 pemain nasional. Apalagi Aspac sudah tidak diperkuat Riko Hantono dan Saut Lambok Jonson. Riko baru saja menikah sedangkan Jonson sudah menyatakan pensiun.

Andrie Ekayana tampil cemerlang lewat tembakan tiga angka di akhir kuarter keempat yang memaksa pertandingan diperpanjang lewat perpanjangan waktu saat kedudukan 78-78. Pada perpanjangan waktu pertama giliran Faisal J. Ahmad yang bisa menyamakan kedudukan.

Pada perpanjangan waktu kedua, para pemain Aspac tampil lebih konsisten. Andhi Batam mencetak 25 angka diikuti Xaverius Prawiro 20 angka dan Andrie Ekayana 20 angka. Dari SM, skor terbanyak dibuat oleh Faisal dengan 21 angka.

“Saya hanya coba main lepas saja. Sungguh, engkel saya sebenarnya masih nyeri,” ungkap Andrie Ekayana, usai pertandingan. “Pertandingan yang melelahkan,” ungkap Xaverius yang menjadi MVP pertandingan.

Adanya pe-er baru bisa diliat dari perubahan slogan buat gelaran kompetisi IBL mulai musim tahun ini. Slogannya kali ini adalah Basket Hidup Saya. Slogan yang rada ambisius karena menganggap basket udah sangat diterima di Indonesia.

Mungkin kalo melihat gelaran kompetisi IBL selama ini, anggapan kayak tadi wajar bakal muncul. Atmsofir yang ada pada setiap pertandingan lumayan seru. Mulai dari aktivitas yang di luar lapangan, maupun di dalam lapangan.

Di luar lapangan, gelaran biasanya di-set seperti sebuah pesta besar yang meriah. Di sekeliling stadion tempat pertandingan basket digelar, bisa ditemui booth-booth yang berhubungan sama IBL serta olahraga basket itu sendiri. Pokoknya nuansa kompetisi yang paten bisa terasa di sini.

Begitu masuk ke dalam lapangan, keseruan makin bertambah. Yang paling jelas adalah selalu ramainya jumlah penonton yang memadati stadion. Ditambah pula dengan perlengkapan atribut layaknya fans fanatik yang mendukung jagoannya. Lantas begitu pertandingan dimulai, sorakan penonton jadi bagian yang menambah seru suasana.

Pertandingan antara klub-klub IBL jelas bisa dibilang bagian paling seru dari gelaran ini. Pemain-pemainnya rata-rata memperagakan teknik bermain basket serta skill individu yang sangat baik. Malah lebih maju dari beberapa tahun silam. Nggak heran kalo dari sini muncul anggapan basket Indonesia nggak bisa dipandang enteng lagi.

Tapi itu semua cuma sebatas saat setiap pertandingan digelar aja. Begitu pestanya udah kelar, situasi jadi biasa-biasa aja lagi. Buktinya jarang sekali ada obrolan-obrolan seru yang muncul berkaitan dengan IBL apalagi perbasketan Indonesia. Artinya belum terjadi ikatan emosional antara basket dengan publiknya.

Jadi bisa dibilang ikatan emosional inilah yang sekarang pengen dikejar oleh kompetisi IBL. Setelah 5 tahun berhasil membuktikan basket emang bisa survive, sekarang tinggal membentuk fanatismenya aja.

Yang jelas fanatisme nggak bisa terbentuk dalam waktu singkat. Makanya bisa jadi slogan Basket Hidup Saya adalah bagian dari program jangka panjang juga, yang awalannya ada di tahun ini. Sedangkan cara yang dipakai buat membangun fanatisme ada pada setiap musim gelaran.

Contohnya kayak gelaran musim ini. Buat yang udah sempet nonton pertandingan IBL musim ini, mungkin melihat perubahan yang terjadi. Sadar nggak kalo nama-nama klub yang bertanding sekarang udah disertai nama kota pula?

Kalo melihat dari perubahan ini, adanya penambahan nama kota di setiap nama klub mungkin ditujukan untuk membangkitkan ikatan emosional tadi. Imej klub akan naik, setidaknya di publik kota yang diwakilinya. Lantas ujungnya soal fanatisme akan bangkit secara perlahan-lahan.

Cara seperti ini yang udah kelihatan sukses di dunia persepakbolaan Indonesia. Sejak lama klub-klub yang bertanding di Liga Indonesia udah menyandang nama kota juga. Ternyata hasilnya saat ini fanatisme terhadap klub di masing-masing kota udah terbentuk secara luar biasa. Terbukti di setiap pertandingannya pasti ada fans fanatik yang berasal dari kota asal klub.

So, jelas kalo mulai musim gelaran tahun ini, setiap klub yang berlaga di IBL bakal lebih digenjot lagi pamornya. Diawali dari pamor di masing-masing kota yang diwakili, sesuai dengan yang dibawa oleh nama klub.

”Di tahun ke-6 kehadiran IBL, kami tak hanya sekedar memfasilitasi aspirasi dan kecintaan terhadap olahraga ini. Lebih dari itu kami hendak mengeksplorasi basket sebagai bagian dari gaya hidup,” papar salah satu petinggi di jajaran pengurus IBL.

Well, setidaknya kita emang pengen ngelihat dunia olahraga di Indonesia jadi bergairah lagi. Setelah selama ini cuma sepakbola yang jadi perhatian besar, nggak ada salahnya kalo basket juga mendapat porsi yang sama.

Olahraga basket emang sempet favorit banget di Indonesia. Apalagi pas jaman demam NBA lagi melanda. Obrolan soal permainan basket dan bintang-bintangnya malah sempet jadi tren. Pokoknya waktu itu dianggap nggak keren kalo nggak tau apa-apa soal basket. Pertandingan-pertandingannya pun sempet rame banget.

Tapi demam ini nggak berlangsung lama. Entah hype yang udah mulai menurun atau info serta pertandingan NBA udah mulai sulit diikutin, minat terhadap basket pun mulai menipis. Sampai akhirnya kurang mendapat perhatian lagi. Bahkan obrolan soal basket pun dianggap biasa aja.

Makanya waktu liga basket profesional Indonesia, IBL, mulai digulirkan pada 30 April 2003, slogan yang dipake adalah We Will Survive. Slogan ini bisa jadi dilancarkan buat membuktikan olahraga basket masih punya massa di Indonesia. Pasalnya basket mulai turun pamor dan kayak ditinggalin begitu aja.

Kondisi tadi bisa dianggap jadi pr er kompetisi IBL yang pertama. Targetnya bikin imej olahraga basket naik lagi. Pe er yang agak sulit. Mengingat waktu itu kondisi dunia perbasketan Indonesia juga lagi menurun. Kompetisi yang digulirkan sebelumnya rata-rata monoton dan kurang kreatif. Pertandingan-pertandingannya pun kurang seru. Ujungnya prestasi dari cabang olahraga ini pun seret.

Hasil pengerjaan pe er lantas mulai keliatan setelah kompetisi berjalan selama 5 tahun. Olahraga basket mulai diminati lagi. Terbukti dari banyaknya jumlah penonton di setiap pertandingan. Jadi kayaknya sekarang giliran pe er berikutnya yang dikerjain.

Semeriah apa pun gelaran liga basket profesional Indonesia (IBL) dari tahun ke tahun, fanatismenya masih belum terasa maksimal. Makanya mulai musim tahun ini pamor klub-klub IBL bakal lebih digenjot.

Predikat cabang olahraga paling favorit di Indonesia sampai saat ini harus diakui masih tetap sepakbola. Liat aja di setiap gelaran kompetisinya. Penonton hampir pasti selalu berjubel. Udah gitu nggak sekadar nonton aja, tapi juga menunjukkan antusiasme berlebihan yang kadang lebih seru daripada permainan sepakbola itu sendiri.

Antusiasme kayak gini belum bisa ditemui di gelaran kompetisi cabang olahraga lain. Padahal kalo ngeliat kompetisinya, rata-rata nggak kalah seru. Ini yang jadi sumber ‘kecemburuan’ cabang olahraga lain. Maunya penonton bikin seru atmosfir kompetisinya juga, persis kayak yang terjadi di sepakbola.

Usaha ini yang mulai dilancarkan cabang olahraga basket lewat gelaran kompetisi profesionalnya, IBL. Mumpung target awal kompetisi ini udah lumayan tercapai.